BRUAAAK!
Sebuah suara keras mengusik kedamaian di pagi itu. Bunyi tersebut tak
hanya menghentikan kesibukan beberapa manusia yang berlalu-lalang di sana.
Namun juga menampakkan pemandangan mencekam kepada mereka. Seorang gadis remaja berjilbab tergeletak di
jalanan aspal dengan kaki dan tangan yang berselimut cairan merah pekat.
Matanya masih setengah terbuka, namun jiwanya entah berada dimana. Bibir gadis itu menganga,
seperti hendak mengeluarkan suara. Tetapi yang keluar hanyalah rintihan samar.
Orang-orang yang mengetahui peristiwa naas itu segera membentuk kerumunan, dan
semakin lama kian melebar.
Beberapa
lelaki dewasa segera menggotong gadis berjilbab tersebut setelah ambulans
datang. Gadis itu masih saja mengeluarkan suara rintihan yang tidak jelas.
Matanya seperti mencari-cari seseorang di sekitar tempat sepeda motornya
terguling. Tetapi yang ia jumpai hanyalah sebuah pohon beringin besar yang
rusak akibat hantaman keras sepeda motornya.
“Anak jaman sekarang, memang nggak bisa ya kalau nggak ngebut?” celetuk
seorang ibu berdaster sambil melempar pandangan ke arah mobil ambulans yang
tengah meraung- raung. “Nggak tau deh,
Bu. Masak ya ada pohon sebesar itu main tabrak aja. Ckck.” Timpal seorang
wanita gemuk di sebelahnya. “Jangan-jangan
ada penunggunya pohon itu.” Si ibu berdaster bergidik ketika matanya menangkap
sebentuk pohon beringin yang terletak tak jauh dari tempatnya berdiri. “Astagfirullah.” Wanita gemuk di sebelahnya
ikut merinding. Tak ingin bertatapan dengan pohon tua berakar gantung itu lebih
lama lagi. *** “Ya Allah Gusti! Kenapa
sampai seperti ini, Nak?” kata seorang ibu yang tengah berada di sebuah rumah
mewah siang itu. Talitha, nama gadis
yang sedang terbaring di atas ranjang, hanya menampakkan ekspresi muka datar.
Ia masih belum sepenuhnya percaya dengan apa yang di alaminya saat berangkat
keluar rumah tadi pagi. “Untung lukamu
tidak serius.” Ucap ibu Talitha sambil mengucap syukur tak habis- habis. Talitha tak habis pikir bagaimana dirinya
bisa menabrak pohon tua di pertigaan jalan itu. Yang ia yakin, matanya tadi
telah menangkap sesosok orang yang tengah menyeberang.
Dan karena kekagetannya waktu itu, ia
sontak mengerem mendadak. Namun sepeda motor matic yang dipacunya dengan
kecepatan 80 km/ jam tidak bisa berhenti tepat waktu. Akhirnya tergulinglah
benda tersebut bersama tubuhnya, menghantam pohon beringin yang diam
terpaku. Anehnya lagi, dengan hantaman
sekeras itu, tubuh Talitha baik-baik saja. Hanya patah lengan sebelah kiri dan
terkilir di bagian paha ke bawah. Mengingat sepeda matic nya tadi ringsek tidak
karuan, mungkin seharusnya ia sudah mengalami gegar otak, atau minimal
pendarahan parah. Bukannya malah
bersyukur, Talitha malah sibuk dengan keheranannya sendiri. Ibunya berkali-kali
membaca istighfar sambil mengelus-elus pundak anak gadis semata wayangnya itu.
Kekhawatiran bercampur kesabaran terpancar jelas di raut wanita berkerudung
lebar tersebut. “Sudah adzan dhuhur, Nak. Ibu sholat dulu ya. Mendoakan
kesembuhanmu.” Kata ibu Talitha sambil beranjak dari tempat duduknya. “Semoga
minggu depan kamu sudah sembuh total, jadi bisa enak puasa Ramadhannya.” Lanjut
wanita itu diiringi senyuman. Talitha hanya mengangkat alis menanggapi
perkataan sang ibu yang kini sudah berjalan menjauh. Matanya beralih melihat
kalender yang tergantung di dinding kamar.
“Cepet banget seminggu lagi sudah bulan puasa.” Ujarnya sambil berdecak.
Tiba-tiba sebuah suara mengagetkannya. Talitha memandangi meja kecil di sebelah
ranjang. Ia melihat handphone kesayangannya tengah bergetar-getar. Gadis itu
segera menyambar benda tersebut. Hanya hitungan detik, warna muka Talitha
berubah seratus delapan puluh derajat menjadi sumringah. “Hei sayaang… Nggak.
Aku nggak apa-apa kok.” Katanya setengah manja kepada seorang lelaki yang meneleponnya
di seberang. “Apa? Mau jenguk?” Kening Talitha tiba-tiba berkerut. “Jangan
sekarang deh. Ada ibuku di rumah. Nanti kamu bisa diusir.” “Iya sayang. Ini
juga mau istirahat kok.” Gadis itu kembali mengeluarkan suaranya yang paling
imut. “See you my darling.” *** Jam dinding berdetak-detak dan menunjuk ke
angka empat. Tubuh Talitha terbangun dari kasur empuknya. Matanya
berkedip-kedip seperti tengah menghimpun nyawa. Diliriknya jam dinding. Gadis
itu tersadar sudah terlelap lebih dari tiga jam. Dan kini tenggorokannya
mendadak dijalari rasa kering yang amat membakar. Di tolehnya kiri-kanan. Tidak
ada tanda-
tanda minuman yang tergeletak. Tidak ada
tanda-tanda keberadaan ibu dan pembantunya. Gadis itu lantas memasang wajah
masam. “Dasar! Di saat seperti ini orang-orang kemana semua sih?” Ucapnya mulai
emosi. Talitha lantas beranjak dari
tempat tidur. Mencoba berdiri dan menapakkan kaki di lantai. Ia merasakan nyeri
merambati sekujur kakinya yang agak bengkak. Tapi rasa sakit itu perlahan-lahan
hilang. Gadis itu agak keheranan sebentar. “Cepet banget sembuhnya.” Namun ia tak begitu peduli. Tenggorokannya
sudah merajuk minta disuplai. Talitha kemudian berjalan keluar kamar, mencari
kulkas. Setelah beberapa tegukan air dingin menyiram tenggorokkannya, suara bel
rumah memekik tak henti-henti. Gadis itu mau tak mau beralih menuju pintu
depan. Dengan agak kesal ia membuka pintu. Betapa terkejutnya Talitha ketika
melihat manusia yang sekarang tengah berdiri di muka pintu. Ia terpaku lama.
Tubuhnya tiba-tiba merinding. Di amatinya sesosok wanita di depannya dengan
pandangan setengah ngeri. “Siapa kamu?” sontak Talitha bertanya. Ia memperhatikan dengan seksama sosok itu;
Seorang wanita dengan rambut berantakan. Benda kumal yang nyaris tak bisa
disebut rambut itu menjuntai-juntai menutupi nyaris separuh wajahnya. Sosok
tersebut memakai pakaian putih compang-camping yang mengenaskan. Tangannya
menghitam dari bagian telapak hingga lengan. Entahlah. Gosong? Batin Talitha
tak paham. Kaki wanita itu sepertinya hilang sebelah karena Talitha hanya
melihat rok ujung bagian kanan yang berkibar. Bibir si wanita sumbing. Giginya
menguning dan mengeropos. Matanya memandang ke depan, namun Talitha tak
menemukan sebuah fokus di sana. Mungkin katarak. Batin Talitha semakin prihatin.
“Siapa ya?” tanya Talitha lagi. Entah kenapa nyali gadis itu kini tidak
segamang tadi. Ia sekarang malah merasa kasihan dengan wanita cacat itu.
“A..aku mau minta tolong.” Ujar si wanita setengah terbata. Bibir sumbingnya
seolah memperlambat kata yang ingin ia rangkai.
“Tolong a…aku.” Ucap wanita itu. Kali ini lebih menyayat. Entah kenapa
batin Talitha mulai bergetar aneh. Jarang sekali ia merasa kasihan seperti ini.
Biasanya gadis itu tak pernah mempedulikan hal yang bukan menjadi urusannya.
“Mau minta tolong apa?” ucap Talitha berlagak acuh. “Tolong antar aku ke
pertigaan jalan di dekat komplek ini.” Wajah si wanita nampak memohon.
Talitha mengangguk-angguk seolah mengerti.
Ia segera berjalan di depan wanita itu. Tak ada sebersit pun rasa takut maupun keinginan
untuk memapah orang cacat tersebut. “Tubuhmu kok bisa seperti itu?” tanya
Talitha tanpa basa-basi. “Nanti aku ceritakan sambil jalan.” Jawab si wanita
sabar. Ia mulai mengikuti langkah Talitha dengan tumpuan sebuah kaki dan
bantuan tongkat miliknya. Mereka telah berjalan beberapa meter dan kini sampai
di sebuah komplek sekolah. Wanita cacat itu tiba-tiba memulai pembicaraan, “Ini
sekolahku dulu.” Talitha tampak sedikit
kaget, “Kebetulan ya? Aku juga sekolah di sini.” Timpalnya. Wanita itu tersenyum. Senyuman yang pahit.
“Aku ingat dulu sering sekali bergosip bersama teman satu geng di dekat trotoar
itu.” Tunjuknya pada tempat yang tak asing bagi Talitha. “Makanya sekarang
bibirku gerepes begini.” Talitha tiba-tiba
kembali merinding. Trotoar itu juga sering sekali menjadi tempat tongkrongannya
untuk berghibah. Ah, peduli setan. Batin gadis itu santai. Selama perjalanan,
wanita aneh itu terus bercerita tentang kehidupannya. Ketika tiba di taman
komplek. Wajah si wanita mendadak muram. “Kamu kenapa?” tanya Talitha heran.
“Aku sering sekali datang ke taman itu.” Ujar si wanita mengenang masa
lalunya. “Aku biasanya kesana bersama
pacarku. Di tempat itu kami berdua-duaan. Berasyik masyuk. Tak peduli lagi
halal dan haram. Bagi kami yang penting bisa bermesraan.” Talitha mencoba
mencerna apa yang barusan di dengarnya. “Kau muslim ya?” “Lihatlah tanganku!”
Ucap wanita itu tanpa menghiraukan pertanyaan Talitha. “Terbakar. Menghitam
seiring banyaknya sentuhan dari mereka yang belum berhak.” “Hah?” Respon Talitha. “Ceritamu ajaib sekali
ya,” lanjutnya setengah mengejek. “Kakiku putus. Kau lihat?” Wanita itu masih
meneruskan ucapannya. “Aku suka melangkah ke tempat-tempat seperti taman ini.
Ke tempat-tempat yang tak membelenggu hawa nafsuku. Jarang aku menginjak rumah,
apalagi menjamah tempat ibadah.” “Kau
benar-benar aneh.” Talitha hanya terbahak, menganggap semua cerita wanita itu
gurauan garing. “Aku awalnya berjilbab.” Wanita itu tak menggubris reaksi
Talitha. “Lantas?” seloroh Talitha sambil menahan tawanya yang siap menyembur
kapan saja. “Rambutku terus mengeras seperti ini sejak aku berjilbab, tetapi
hanya sekedar menutup kepala.” Wanita itu mulai terisak. “Aku berjilbab karena
permohonan ibuku.” katanya lirih. “Aku berjilbab… namun aku juga tak pernah berhenti
menabung dosa. Mataku, kakiku, tanganku, semuanya… Semuanya tak pernah
benar-benar kujaga!”
Entah kenapa Talitha spontan merasakan bulu
kuduknya meremang dan merembet ke sekujur tubuh. Ia merasakan cerita wanita itu
amat familiar. Hatinya mulai begidik cemas.
“Sebenarnya kau ini siapa?” tanya Talitha untuk kesekian. Kini ia
benar-benar serius. Wanita itu tersenyum getir. Sangat getir, hingga Talitha
bisa merasakan aura wanita itu melebur di atmosfer dan mengelam layaknya
pesakitan. “Aku adalah gadis yang
kecelakaan tadi pagi, di tempat itu…” Tunjuk si wanita ke arah pohon beringin
lebat di seberang jalan. Talitha
mematung. Wajahnya memucat. Sulur-sulur kengerian bagai merambat masuk menjebol
seluruh ujung syarafnya. Talitha berusaha mencerna cerita si wanita mulai dari
awal perjalanan tadi. Kisah itu memang menyerupai kisahnya. Wanita itu…
mungkinkah dirinya? Tapi kenapa sosoknya… Talitha seketika bagai mengalami
dejavu. Ia teringat dengan sosok yang tadi pagi hampir dia tabrak. Sesosok
manusia yang serupa dengan wanita yang sejak tadi ditemaninya. Ingatan itu
tadinya hanya remang-remang. Namun sekarang terasa amat jelas hingga membuat
tubuh Talitha bergetar hebat. Perasaan takut dan kacau seolah mendobrak jiwanya
bertubi-tubi. Talitha mencoba menoleh ke arah si wanita. Tetapi sudah tak ada
siapapun di sampingnya. Sepi. Hanya tersisa mendung pekat yang menggelayut di
ujung sore. Ketakutan semakin memburunya
tanpa ampun. Ia ingin pulang, sekarang juga! Talitha mencoba berlari menjauh
dari tempatnya berdiri. Namun satu kakinya tiba-tiba menghilang. Ia memekik
keras. Tapi tak ada suara apapun keluar dari mulutnya. Talitha merasa bibirnya
kini lekat dengan kulit wajahnya. Tidaaak! Pekiknya dalam hati. Ia
membelalakkan mata saat melihat tangannya mulai menghitam, terkelupas seperti
daun yang tengah dibakar. Tak ada siapapun yang mendengar teriakannya. Hanya
ada mendung. Mendung yang kian keruh. Talitha terus menjerit-jerit, hingga
tubuhnya tersentak begitu hebat. “Ada
apa, Nak?” Sebuah suara lembut akhirnya memulihkan kesadarannya. Di sampingnya
ada sosok ibunya yang tengah menggenggam mushaf Al-Quran. Talitha menatap
ibunya, kemudian terisak. Gadis itu menangis, terus menangis sampai berjam-jam
hingga sang ibu sangat kebingungan. Sungguh mimpi yang sangat nyata dan
mencekam. Talitha sungguh takut. Takut akan dosa-dosa yang seakan ingin
menerkamnya. Di sela tangisan, gadis itu berkata lirih kepada Ibunya, “Doakan
Talitha agar masih sempat bertemu bulan Ramadhan besok ya, Bu.” ***
Beberapa lelaki dewasa segera menggotong gadis berjilbab tersebut setelah ambulans datang. Gadis itu masih saja mengeluarkan suara rintihan yang tidak jelas. Matanya seperti mencari-cari seseorang di sekitar tempat sepeda motornya terguling. Tetapi yang ia jumpai hanyalah sebuah pohon beringin besar yang rusak akibat hantaman keras sepeda motornya. “Anak jaman sekarang, memang nggak bisa ya kalau nggak ngebut?” celetuk seorang ibu berdaster sambil melempar pandangan ke arah mobil ambulans yang tengah meraung- raung. “Nggak tau deh, Bu. Masak ya ada pohon sebesar itu main tabrak aja. Ckck.” Timpal seorang wanita gemuk di sebelahnya. “Jangan-jangan ada penunggunya pohon itu.” Si ibu berdaster bergidik ketika matanya menangkap sebentuk pohon beringin yang terletak tak jauh dari tempatnya berdiri. “Astagfirullah.” Wanita gemuk di sebelahnya ikut merinding. Tak ingin bertatapan dengan pohon tua berakar gantung itu lebih lama lagi. *** “Ya Allah Gusti! Kenapa sampai seperti ini, Nak?” kata seorang ibu yang tengah berada di sebuah rumah mewah siang itu. Talitha, nama gadis yang sedang terbaring di atas ranjang, hanya menampakkan ekspresi muka datar. Ia masih belum sepenuhnya percaya dengan apa yang di alaminya saat berangkat keluar rumah tadi pagi. “Untung lukamu tidak serius.” Ucap ibu Talitha sambil mengucap syukur tak habis- habis. Talitha tak habis pikir bagaimana dirinya bisa menabrak pohon tua di pertigaan jalan itu. Yang ia yakin, matanya tadi telah menangkap sesosok orang yang tengah menyeberang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar