Senin, 17 Maret 2014

Cerpen ~ Tamu Di Ujung Sore

BRUAAAK!  Sebuah suara keras mengusik kedamaian di pagi itu. Bunyi tersebut tak hanya menghentikan kesibukan beberapa manusia yang berlalu-lalang di sana. Namun juga menampakkan pemandangan mencekam kepada mereka.  Seorang gadis remaja berjilbab tergeletak di jalanan aspal dengan kaki dan tangan yang berselimut cairan merah pekat. Matanya masih setengah terbuka, namun jiwanya entah  berada dimana. Bibir gadis itu menganga, seperti hendak mengeluarkan suara. Tetapi yang keluar hanyalah rintihan samar. Orang-orang yang mengetahui peristiwa naas itu segera membentuk kerumunan, dan semakin lama kian melebar.  

Beberapa lelaki dewasa segera menggotong gadis berjilbab tersebut setelah ambulans datang. Gadis itu masih saja mengeluarkan suara rintihan yang tidak jelas. Matanya seperti mencari-cari seseorang di sekitar tempat sepeda motornya terguling. Tetapi yang ia jumpai hanyalah sebuah pohon beringin besar yang rusak akibat hantaman keras sepeda motornya.  “Anak jaman sekarang, memang nggak bisa ya kalau nggak ngebut?” celetuk seorang ibu berdaster sambil melempar pandangan ke arah mobil ambulans yang tengah meraung- raung.  “Nggak tau deh, Bu. Masak ya ada pohon sebesar itu main tabrak aja. Ckck.” Timpal seorang wanita gemuk di sebelahnya.  “Jangan-jangan ada penunggunya pohon itu.” Si ibu berdaster bergidik ketika matanya menangkap sebentuk pohon beringin yang terletak tak jauh dari tempatnya berdiri.  “Astagfirullah.” Wanita gemuk di sebelahnya ikut merinding. Tak ingin bertatapan dengan pohon tua berakar gantung itu lebih lama lagi. ***  “Ya Allah Gusti! Kenapa sampai seperti ini, Nak?” kata seorang ibu yang tengah berada di sebuah rumah mewah siang itu.  Talitha, nama gadis yang sedang terbaring di atas ranjang, hanya menampakkan ekspresi muka datar. Ia masih belum sepenuhnya percaya dengan apa yang di alaminya saat berangkat keluar rumah tadi pagi.  “Untung lukamu tidak serius.” Ucap ibu Talitha sambil mengucap syukur tak habis- habis.  Talitha tak habis pikir bagaimana dirinya bisa menabrak pohon tua di pertigaan jalan itu. Yang ia yakin, matanya tadi telah menangkap sesosok orang yang tengah menyeberang.
Dan karena kekagetannya waktu itu, ia sontak mengerem mendadak. Namun sepeda motor matic yang dipacunya dengan kecepatan 80 km/ jam tidak bisa berhenti tepat waktu. Akhirnya tergulinglah benda tersebut bersama tubuhnya, menghantam pohon beringin yang diam terpaku.  Anehnya lagi, dengan hantaman sekeras itu, tubuh Talitha baik-baik saja. Hanya patah lengan sebelah kiri dan terkilir di bagian paha ke bawah. Mengingat sepeda matic nya tadi ringsek tidak karuan, mungkin seharusnya ia sudah mengalami gegar otak, atau minimal pendarahan parah.  Bukannya malah bersyukur, Talitha malah sibuk dengan keheranannya sendiri. Ibunya berkali-kali membaca istighfar sambil mengelus-elus pundak anak gadis semata wayangnya itu. Kekhawatiran bercampur kesabaran terpancar jelas di raut wanita berkerudung lebar tersebut. “Sudah adzan dhuhur, Nak. Ibu sholat dulu ya. Mendoakan kesembuhanmu.” Kata ibu Talitha sambil beranjak dari tempat duduknya. “Semoga minggu depan kamu sudah sembuh total, jadi bisa enak puasa Ramadhannya.” Lanjut wanita itu diiringi senyuman. Talitha hanya mengangkat alis menanggapi perkataan sang ibu yang kini sudah berjalan menjauh. Matanya beralih melihat kalender yang tergantung di dinding kamar.  “Cepet banget seminggu lagi sudah bulan puasa.” Ujarnya sambil berdecak. Tiba-tiba sebuah suara mengagetkannya. Talitha memandangi meja kecil di sebelah ranjang. Ia melihat handphone kesayangannya tengah bergetar-getar. Gadis itu segera menyambar benda tersebut. Hanya hitungan detik, warna muka Talitha berubah seratus delapan puluh derajat menjadi sumringah. “Hei sayaang… Nggak. Aku nggak apa-apa kok.” Katanya setengah manja kepada seorang lelaki yang meneleponnya di seberang. “Apa? Mau jenguk?” Kening Talitha tiba-tiba berkerut. “Jangan sekarang deh. Ada ibuku di rumah. Nanti kamu bisa diusir.” “Iya sayang. Ini juga mau istirahat kok.” Gadis itu kembali mengeluarkan suaranya yang paling imut. “See you my darling.” *** Jam dinding berdetak-detak dan menunjuk ke angka empat. Tubuh Talitha terbangun dari kasur empuknya. Matanya berkedip-kedip seperti tengah menghimpun nyawa. Diliriknya jam dinding. Gadis itu tersadar sudah terlelap lebih dari tiga jam. Dan kini tenggorokannya mendadak dijalari rasa kering yang amat membakar. Di tolehnya kiri-kanan. Tidak ada tanda-
tanda minuman yang tergeletak. Tidak ada tanda-tanda keberadaan ibu dan pembantunya. Gadis itu lantas memasang wajah masam. “Dasar! Di saat seperti ini orang-orang kemana semua sih?” Ucapnya mulai emosi.  Talitha lantas beranjak dari tempat tidur. Mencoba berdiri dan menapakkan kaki di lantai. Ia merasakan nyeri merambati sekujur kakinya yang agak bengkak. Tapi rasa sakit itu perlahan-lahan hilang. Gadis itu agak keheranan sebentar. “Cepet banget sembuhnya.”  Namun ia tak begitu peduli. Tenggorokannya sudah merajuk minta disuplai. Talitha kemudian berjalan keluar kamar, mencari kulkas. Setelah beberapa tegukan air dingin menyiram tenggorokkannya, suara bel rumah memekik tak henti-henti. Gadis itu mau tak mau beralih menuju pintu depan. Dengan agak kesal ia membuka pintu. Betapa terkejutnya Talitha ketika melihat manusia yang sekarang tengah berdiri di muka pintu. Ia terpaku lama. Tubuhnya tiba-tiba merinding. Di amatinya sesosok wanita di depannya dengan pandangan setengah ngeri. “Siapa kamu?” sontak Talitha bertanya.  Ia memperhatikan dengan seksama sosok itu; Seorang wanita dengan rambut berantakan. Benda kumal yang nyaris tak bisa disebut rambut itu menjuntai-juntai menutupi nyaris separuh wajahnya. Sosok tersebut memakai pakaian putih compang-camping yang mengenaskan. Tangannya menghitam dari bagian telapak hingga lengan. Entahlah. Gosong? Batin Talitha tak paham. Kaki wanita itu sepertinya hilang sebelah karena Talitha hanya melihat rok ujung bagian kanan yang berkibar. Bibir si wanita sumbing. Giginya menguning dan mengeropos. Matanya memandang ke depan, namun Talitha tak menemukan sebuah fokus di sana. Mungkin katarak. Batin Talitha semakin prihatin. “Siapa ya?” tanya Talitha lagi. Entah kenapa nyali gadis itu kini tidak segamang tadi. Ia sekarang malah merasa kasihan dengan wanita cacat itu. “A..aku mau minta tolong.” Ujar si wanita setengah terbata. Bibir sumbingnya seolah memperlambat kata yang ingin ia rangkai.  “Tolong a…aku.” Ucap wanita itu. Kali ini lebih menyayat. Entah kenapa batin Talitha mulai bergetar aneh. Jarang sekali ia merasa kasihan seperti ini. Biasanya gadis itu tak pernah mempedulikan hal yang bukan menjadi urusannya. “Mau minta tolong apa?” ucap Talitha berlagak acuh. “Tolong antar aku ke pertigaan jalan di dekat komplek ini.” Wajah si wanita nampak memohon.
Talitha mengangguk-angguk seolah mengerti. Ia segera berjalan di depan wanita itu. Tak ada sebersit pun rasa takut maupun keinginan untuk memapah orang cacat tersebut. “Tubuhmu kok bisa seperti itu?” tanya Talitha tanpa basa-basi. “Nanti aku ceritakan sambil jalan.” Jawab si wanita sabar. Ia mulai mengikuti langkah Talitha dengan tumpuan sebuah kaki dan bantuan tongkat miliknya. Mereka telah berjalan beberapa meter dan kini sampai di sebuah komplek sekolah. Wanita cacat itu tiba-tiba memulai pembicaraan, “Ini sekolahku dulu.”  Talitha tampak sedikit kaget, “Kebetulan ya? Aku juga sekolah di sini.” Timpalnya.  Wanita itu tersenyum. Senyuman yang pahit. “Aku ingat dulu sering sekali bergosip bersama teman satu geng di dekat trotoar itu.” Tunjuknya pada tempat yang tak asing bagi Talitha. “Makanya sekarang bibirku gerepes begini.”  Talitha tiba-tiba kembali merinding. Trotoar itu juga sering sekali menjadi tempat tongkrongannya untuk berghibah. Ah, peduli setan. Batin gadis itu santai. Selama perjalanan, wanita aneh itu terus bercerita tentang kehidupannya. Ketika tiba di taman komplek. Wajah si wanita mendadak muram. “Kamu kenapa?” tanya Talitha heran. “Aku sering sekali datang ke taman itu.” Ujar si wanita mengenang masa lalunya.  “Aku biasanya kesana bersama pacarku. Di tempat itu kami berdua-duaan. Berasyik masyuk. Tak peduli lagi halal dan haram. Bagi kami yang penting bisa bermesraan.” Talitha mencoba mencerna apa yang barusan di dengarnya. “Kau muslim ya?” “Lihatlah tanganku!” Ucap wanita itu tanpa menghiraukan pertanyaan Talitha. “Terbakar. Menghitam seiring banyaknya sentuhan dari mereka yang belum berhak.”  “Hah?” Respon Talitha. “Ceritamu ajaib sekali ya,” lanjutnya setengah mengejek. “Kakiku putus. Kau lihat?” Wanita itu masih meneruskan ucapannya. “Aku suka melangkah ke tempat-tempat seperti taman ini. Ke tempat-tempat yang tak membelenggu hawa nafsuku. Jarang aku menginjak rumah, apalagi menjamah tempat ibadah.”  “Kau benar-benar aneh.” Talitha hanya terbahak, menganggap semua cerita wanita itu gurauan garing. “Aku awalnya berjilbab.” Wanita itu tak menggubris reaksi Talitha. “Lantas?” seloroh Talitha sambil menahan tawanya yang siap menyembur kapan saja. “Rambutku terus mengeras seperti ini sejak aku berjilbab, tetapi hanya sekedar menutup kepala.” Wanita itu mulai terisak. “Aku berjilbab karena permohonan ibuku.” katanya lirih. “Aku berjilbab… namun aku juga tak pernah berhenti menabung dosa. Mataku, kakiku, tanganku, semuanya… Semuanya tak pernah benar-benar kujaga!”
Entah kenapa Talitha spontan merasakan bulu kuduknya meremang dan merembet ke sekujur tubuh. Ia merasakan cerita wanita itu amat familiar. Hatinya mulai begidik cemas.  “Sebenarnya kau ini siapa?” tanya Talitha untuk kesekian. Kini ia benar-benar serius. Wanita itu tersenyum getir. Sangat getir, hingga Talitha bisa merasakan aura wanita itu melebur di atmosfer dan mengelam layaknya pesakitan.  “Aku adalah gadis yang kecelakaan tadi pagi, di tempat itu…” Tunjuk si wanita ke arah pohon beringin lebat di seberang jalan.  Talitha mematung. Wajahnya memucat. Sulur-sulur kengerian bagai merambat masuk menjebol seluruh ujung syarafnya. Talitha berusaha mencerna cerita si wanita mulai dari awal perjalanan tadi. Kisah itu memang menyerupai kisahnya. Wanita itu… mungkinkah dirinya? Tapi kenapa sosoknya… Talitha seketika bagai mengalami dejavu. Ia teringat dengan sosok yang tadi pagi hampir dia tabrak. Sesosok manusia yang serupa dengan wanita yang sejak tadi ditemaninya. Ingatan itu tadinya hanya remang-remang. Namun sekarang terasa amat jelas hingga membuat tubuh Talitha bergetar hebat. Perasaan takut dan kacau seolah mendobrak jiwanya bertubi-tubi. Talitha mencoba menoleh ke arah si wanita. Tetapi sudah tak ada siapapun di sampingnya. Sepi. Hanya tersisa mendung pekat yang menggelayut di ujung sore.  Ketakutan semakin memburunya tanpa ampun. Ia ingin pulang, sekarang juga! Talitha mencoba berlari menjauh dari tempatnya berdiri. Namun satu kakinya tiba-tiba menghilang. Ia memekik keras. Tapi tak ada suara apapun keluar dari mulutnya. Talitha merasa bibirnya kini lekat dengan kulit wajahnya. Tidaaak! Pekiknya dalam hati. Ia membelalakkan mata saat melihat tangannya mulai menghitam, terkelupas seperti daun yang tengah dibakar. Tak ada siapapun yang mendengar teriakannya. Hanya ada mendung. Mendung yang kian keruh. Talitha terus menjerit-jerit, hingga tubuhnya tersentak begitu hebat.  “Ada apa, Nak?” Sebuah suara lembut akhirnya memulihkan kesadarannya. Di sampingnya ada sosok ibunya yang tengah menggenggam mushaf Al-Quran. Talitha menatap ibunya, kemudian terisak. Gadis itu menangis, terus menangis sampai berjam-jam hingga sang ibu sangat kebingungan. Sungguh mimpi yang sangat nyata dan mencekam. Talitha sungguh takut. Takut akan dosa-dosa yang seakan ingin menerkamnya. Di sela tangisan, gadis itu berkata lirih kepada Ibunya, “Doakan Talitha agar masih sempat bertemu bulan Ramadhan besok ya, Bu.” ***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar